KILASKABAR
EKONOMITren Properti 2026 Hunian Transit Oriented Development Makin Diminati

Tren Properti 2026 Hunian Transit Oriented Development Makin Diminati

PenulisTim Redaksi
Diterbitkan16 Januari 2026
Tren Properti 2026 Hunian Transit Oriented Development Makin Diminati

Tren Properti 2026 Hunian Transit Oriented Development Makin Diminati

TANGERANG SELATAN – Wajah sektor properti Indonesia sedang berubah haluan. Jika dulu impian kelas menengah adalah rumah tapak (landed house) luas di pinggiran kota, kini preferensi bergeser drastis. Generasi milenial dan Gen Z yang mendominasi pasar properti lebih memilih kepraktisan dan mobilitas. Inilah yang memicu ledakan permintaan hunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD).

Kawasan seperti BSD City, Cibubur, hingga pusat kota Jakarta, kini berlomba-lomba mengintegrasikan apartemen dengan stasiun LRT, MRT, atau Commuter Line. Ekonomi properti tidak lagi hanya jual bangunan, tapi jual gaya hidup efisien.

Mengapa TOD Menjadi Primadona?

Kemacetan parah di Jabodetabek dan kota metropolitan lain seperti Surabaya dan Medan adalah pemicu utama. Menghabiskan waktu 4 jam sehari di jalan raya dianggap pemborosan waktu produktif dan biaya transportasi yang gila-gilaan.

Hunian TOD menawarkan solusi: Turun dari lift apartemen, langsung masuk stasiun, dan sampai di kantor pusat bisnis (CBD) dalam 30-45 menit tanpa stres macet. Penghematan biaya bensin, tol, dan perawatan kendaraan bisa dialihkan untuk membayar cicilan KPR. Secara hitungan ekonomi rumah tangga, ini sangat masuk akal.

Investasi Properti: Capital Gain vs Rental Yield

Bagi investor, properti TOD menawarkan rental yield (imbal hasil sewa) yang lebih tinggi dibanding rumah tapak di lokasi terpencil. Karyawan muda dan ekspatriat lebih suka menyewa unit studio atau 2BR yang nempel stasiun MRT.

Kawasan Dukuh Atas dan Fatmawati di Jakarta Selatan menjadi contoh sukses di mana harga tanah dan properti melonjak (Capital Gain) signifikan sejak MRT beroperasi. Fenomena serupa mulai terlihat di sepanjang jalur LRT Jabodebek yang melintasi Bekasi dan Cibubur.

Perubahan Desain: Compact dan Fungsional

Tren properti 2026 juga ditandai dengan desain unit yang makin compact namun fungsional (smart home). Furnitur multifungsi dan teknologi rumah pintar menjadi standar. Pengembang tidak lagi menjual “ruang kosong”, tapi “ruang hidup”.

Fasilitas komunal seperti Co-Working Space di dalam gedung apartemen menjadi wajib, mengakomodasi tren kerja hybrid (WFA). Penghuni bisa bekerja dari lobi apartemen tanpa harus pergi ke kafe atau kantor.

Green Building dan KPR Hijau

Isu lingkungan juga masuk ke sektor properti. Gedung-gedung baru kini wajib memenuhi standar Green Building. Penggunaan kaca hemat energi, pengolahan air limbah mandiri, dan ruang terbuka hijau menjadi nilai jual.

Bank Indonesia dan perbankan merespons dengan KPR Hijau (Green Mortgage). Bunga kredit untuk pembelian properti bersertifikat hijau diberikan diskon khusus dan DP 0%. Insentif makroprudensial ini menggairahkan pasar sekaligus mendorong pengembang untuk lebih peduli lingkungan.

Tantangan Harga Tanah dan Backlog Perumahan

Di sisi lain, harga hunian di pusat TOD memang premium. Tantangannya adalah menyediakan hunian TOD yang terjangkau bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Konsep Rusunami di stasiun kereta api (seperti di Stasiun Pondok Cina dan Tanjung Barat) adalah terobosan bagus, namun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk mengatasi backlog perumahan yang mencapai 12 juta unit.

Kesimpulan

Tahun 2026 adalah tahunnya properti yang terkoneksi. Lokasi, lokasi, dan transportasi menjadi mantra baru. Bagi Anda yang berencana membeli properti, baik untuk dihuni atau investasi, carilah yang dekat dengan simpul transportasi massal. Nilai asetnya akan lebih tahan banting terhadap inflasi dan resesi, karena kebutuhan akan mobilitas tidak akan pernah mati.

Bagikan Artikel:

ARTIKEL TERKAIT